Postgre is Powerfull

Ruwetnya menyusun data kombinasi, crosstab, array, transpose colum dsb….

Alhamdulillah Ya…ada PostGreSQL…dimana gratis, komplit, enterprise grade dan powerfull serta dukungan forum seantero jagad internet kita pake semboyan penamabah semangat……Where is A will there is A way…….atau yang ini…..Inna ma’al usri yusron…..fainna ma’al usri yusron…..

Terkadang walau hasil dari suatu pengolahan data nilai informasinya tidak begitu sangat penting namun kalau sudah menjadi keharusan, mandatory atau syarat formal harus juga dibuat bagaimanapun caranya hehehehehe…resiko pekerjaan….Dibawah ini adalah bahan mentah data yang hendak diolah diambil menggunakan query sederhana…

" select * from tbljdwlpetugas where id_jdwl=’122010’ "……..menggunakan pgAdmin….

Gambar 1. Data mentah ..di query menggunakan PGAdmin
img1

Dan hasil yang diminta adalah sebagai berikut….sebagai reporting….yang jarang dibuat dan dipakai …sungguh ironis…dan menyakitkan…bikinnya susah…makainya belum tentu…

Gambar 2. Hasil Reporting menggunakan Fast Report
img2

Hasil diatas merupakan hasil transpose atau pivot dari data tabel diatas (gambar 1 )….kalau data tabel mentahnya rc_petugas dan rl_petugas mempunyai raw data array berupa tanggal maka dalam hasil output reportingnya akan ditranspose sebagai column juga sebagai tanggal dan diasndingkan dengan kolom rl_petugas sebagai row pasangannya….nah ini yang ruwet……

Untuk mewujudkannya…dipakailah beberapa tingkat query dan query utamanya adalah :

select i as tgl, getpair_rcrl(i,’122010’,’r’) as rc,ARRAY(select lpad(rc_petugas[i],2,’0’)from tbljdwlpetugas where id_jdwl=’122010’) as petugas_rc, getpair_rcrl(i,’122010’,’l’) as rl,
ARRAY(select lpad(rl_petugas[i],2,’0’) from tbljdwlpetugas where id_jdwl=’122010’) as petugas_rl,
case
when getpair_rcrl(i,’122010’,’l’) =0 then 0
else (getpair_rcrl(i,’122010’,’l’)/ getpair_rcrl(i,’122010’,’r’)) *100
end
as pencapaian from generate_series(1,31) as i

Seperti yang saya katakan bahwa ini salah satu query saja dan hasilnya memang bukan seperti gambar output report di atas tapi baru seperti ini

Gambar3. Hasil query sebelum disusun Report
img3

Tugas selanjutnya adalah menyusun dataset tersebuty ke dalam reporting designer…saya sendiri pakai FastReport…dan jadilah tampilan yang diinginkan seperti gambar 1 di atas…

Mudah-mudahan ini bisa memberi catatan ingatan untuk saya sendiri dan kalau ada manfaatnya buat orang lain…..ada yang kurang dalam mungkin dalam Query utama tersebut di atas yaitu fungsi getpair_rcrl…scriptnya sderhana sbb :

REATE OR REPLACE FUNCTION getpair_rcrl(tgl integer, idjdwl varchar,rcrl char)
RETURNS float AS
$BODY$
DECLARE
hasil float;

BEGIN
IF rcrl = ’r’ THEN
select count(rc_petugas[tgl]) into hasil from tbljdwlpetugas where rc_petugas[tgl]::int > 0 and id_jdwl=idjdwl;
ELSE
select count(rl_petugas[tgl]) into hasil from tbljdwlpetugas where rl_petugas[tgl]::int > 0 and id_jdwl=idjdwl;
END IF;
RETURN hasil;

END;
$BODY$
LANGUAGE ’plpgsql’ VOLATILE
COST 100;
ALTER FUNCTION getpair_rcrl(integer, varchar, char) OWNER TO AQNAN

Posted Oktober 11, 2011 by ridwan mustofa in MasihBelajar

GREGORIAN TO HIJRI

//Taken from : http://www.bukisa.com/articles/81917_hijri-date-converter-delphi-source-code#ixzz19fQ6xQH8

// Created by Irwan A.
// irwan.a@gmail.com
//
// adapted from a Javascript source code that

// i found somewhere on the net.
// but i lost the URL. hope the author doesn’t mind :)
// Month & day names are taken from
// http://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_calendar
// thanks to @bu @hs@n
// for pointing this out

//comment by me (

//May be the URL of java script : http://www.islamicfinder.org/

unit Hijri;

interface

uses
Windows, Messages, SysUtils, Classes, Graphics,
Controls, Math;

type
THijriDate = record
HijriDate: integer;
HijriMonth: integer;
HijriYear: integer;
JulianDate: integer;
HijriDay: string;
end;

function IntPart(Num : real) : integer;
function WeekDay(Wdn : integer) : string;
function Gre2Hijri(var D, M, Y : word): THijriDate;
function HijriMonths(Mth : integer) : string;

implementation

function IntPart(Num : real) : integer;
begin
if Num < -0.0000001 then
Result := Ceil(Num – 0.0000001)
else
Result := Floor(Num + 0.0000001);
end;

function WeekDay(Wdn : integer) : string;
begin
{
case Wdn of
0: Result := ’Al-Ithnayn’;
1: Result := ’Ath-Thalatha’;
2: Result := ’Al-Arba`a’;
3: Result := ’Al-Khomis’;
4: Result := ’Al-Jum`a’;
5: Result := ’As-Sabt’;
6: Result := ’Al-Ahad’;
end;
}

//My Editing for Indonesian

case Wdn of
0: Result := ’Senin’;
1: Result := ’Selasa’;
2: Result := ’Rabu’;
3: Result := ’Kamis’;
4: Result := ’Jum`at’;
5: Result := ’Sabtu’;
6: Result := ’Ahad’;
end;

end;

function Gre2Hijri(var D, M, Y : word): THijriDate;
var
jd, l, n, j : integer;
begin
if ((Y > 1582) or ((Y = 582) and (M > 10))
or ((Y = 1582) and (M = 10) and (D>14))) then
begin
jd := IntPart((1461 * (Y + 4800 +
IntPart((M – 14)/12)))/4) +
IntPart((367 * (M – 2 – 12 *
(IntPart((M – 14)/12))))/12) -
IntPart((3 * (IntPart((Y + 4900 +
IntPart((M – 14)/12))/100)))/4) + D – 32075;
end
else
begin
jd := 367 * Y – IntPart((7 * (Y + 5001 +
IntPart((M – 9)/7)))/4) + IntPart((275 * M)/9)
+ D + 1729777;
end;

l := jd -1948440 + 10632;
n := IntPart((l – 1)/10631);
l := l – 10631 * n + 354;

j := (IntPart((10985 – l)/5316)) *
(IntPart((50 * l)/17719)) + (IntPart(l/5670)) *
(IntPart((43 * l)/15238));

l := l – (IntPart((30 – j)/15)) *
(IntPart((17719 * j)/50)) – (IntPart(j/16)) *
(IntPart((15238 * j)/43)) + 29;

m := IntPart((24 * l)/709);
d := l – IntPart((709 * m)/24);
y := 30 * n + j – 30;

Result.HijriDate := d;
Result.HijriMonth := m;
Result.HijriYear := y;
Result.JulianDate := jd;
Result.HijriDay := WeekDay(jd mod 7);

end;

function HijriMonths(Mth : integer) : string;
begin
{
case Mth of
1: Result := ’Muharram’;
2: Result := ’Safar’;
3: Result := ’Rabi’’ al-awwal’;
4: Result := ’Rabi’’ al-thani’;
5: Result := ’Jumada al-awwal’;
6: Result := ’Jumada al-thani’;
7: Result := ’Rajab’;
8: Result := ’Sha’’ban’;
9: Result := ’Ramadan’;
10: Result := ’Shawwal’;
11: Result := ’Dhu al-Qi’’dah’;
12: Result := ’Dhu al-Hijjah’;
end;
}

//My Editing for Indonesian

case Mth of
1: Result := ’Muharram’;
2: Result := ’Safar’;
3: Result := ’Rabiulawwal’;
4: Result := ’Rabiutsaani’;
5: Result := ’Jumadilawwal’;
6: Result := ’Jumadatsaani’;
7: Result := ’Rajab’;
8: Result := ’Sya’’ban’;
9: Result := ’Ramadhan’;
10: Result := ’Syawal’;
11: Result := ’Dzulqoidah’;
12: Result := ’Dzulhijjah’;
end;
end;

end.

Sumber Asli dengan sedikit tambahan komentar dan konversi :

http://www.bukisa.com/articles/81917_hijri-date-converter-delphi-source-code#ixzz19fQ6xQH8

Posted Mei 18, 2011 by ridwan mustofa in MasihBelajar

YANG INI BOLEH JUGA

Belajar Qira’at Sab’ah, Luruskan Salah Paham

P_Fatho

Selama ini, kesalahan besar yang berkenaan dengan pengumpulan al-Qur’an adalah bahwa pemahaman bahwa Ustman bin Affan memerintahkan untuk menuliskan al-Quran dalam satu bacaan yang sama dan menjadikan enam mushaf. Lalu, mushaf-mushaf tersebut di kirim ke daerah-daerah Islam, seperti Mekkah, Yaman, Kufah, Syam, Bashrah, dan di Madinah sendiri.

“Mulai sekarang, pemahaman seperti itu harus dicoret besar-besar. Dengan enaknya, mereka bilang kalau Utsman menyamakan bacaan al-Qur’an dan menjadikannya dalam enam mushaf Utsmani itu agar bacaan umat Islam sama. Ini harus diluruskan,” tegas Ustadz Fathoni dalam pengajian rutin Qira’at Sab’ah di Masjid Raudhatul Qur’an, Institut Ilmu Al-Quran (IIQ), Jumat (26/11).
Lebih lanjut, Ustadz Fathoni menjelaskan, bahwa ide penulisan Al-Qur’an pada masa Khalifah Utsman adalah suatu ketika pasukan muslimin sedang berperang di daerah Azerbaijan dan Armenia (uni Soviet). Prajurit Irak dan Syiria ternyata menemukan adanya perbedaan cara membaca Al-Qur’an. Karena, dulu Nabi saw. memang mengirimkan sahabat yang berbeda dengan bacaan yang berbeda ke daerah-daerah untuk mengajarkan al-Qur’an pada pendudukan setempat. Perbedaan ini membuat mereka saling bertikai. Kabar pertikaian itu pun sampai didengar Utsman bin Affan.
Maka, oleh Utsman dibentuklah tim penulisan wahyu. Tulisan-tulisan al-Qur’an (belum dibukukan—masih di tulang hewan, kulit binatang, atau di kayu) yang dikumpulkan pada masa Abu Bakr pun ditulis ulang oleh tim penulis wahyu yang terdiri dari Abdullah bin Amr bin Ash, Abdulah bin Zubair, Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, dan Zaid bin Tsabit.
Ternyata, memang ada perbedaan cara membaca dalam mushaf-mushaf tersebut. Oleh tim penulis wahyu, semua perbedaan-perbedaan itu dituangkan dalam enam mushaf (atau dalam pendapat lain 5 mushaf) yang kemudian dikirim ke beberapa daerah seperti tersebut di atas. Jadilah, enam mushaf itu sebagai mushaf imam di beberapa daerah. Mengenai pemberian nama mushaf utsmani, dinisbatkan pada Khalifah Utsman karena penulisan itu dilakukan pada masa pemerintahana.
Lalu, pertanyaan berikutnya; apa yang dimaksud dengan qiraat sab’ah itu?
Ustadz Fathoni menjawab, bahwa keseluruhan Al-Qur’an dari awal hingga akhir itu tidak akan keluar dari tujuh perbedaan bentuk/wajah, antara lain: bentuk isim (mufrad, mutsanna, dan jama’), fi’il (madhi, mudhari’, dan amr), i’rab (rafa’, nasb, jar, dan jazm), naqis atau ziyadah, taqdim dan ta’khir, tabdil, dan perbedaan dalam bentuk dialek (lahjah).
“Jadi, tidak berarti jika seseorang membaca al-Quran dari seorang imam, dia telah membaca seluruh bentuk dari qiraah sab’ah yang terkandung dalam al-Qur’an. Akan tetapi, dia hanya membaca sebagian dari qiraat sab’ah itu,” jelas Ustadz Fathoni.

Masjid Raudhatul Qur’an IIQ sendiri mengadakan pengajian rutin ilmu langka ini 2 kali seminggu, yakni setiap Senin dan Rabu malam setelah Shalat Isya’. Masyarakat umum juga bisa mengikuti. [KHO]

Sumber copas : http://pesantreniiq.blogspot.com/2010/11/belajar-qiraat-sabah-luruskan-salah.html

Posted April 29, 2011 by ridwan mustofa in MasihBelajar

Radio Iran : (Bahrain : Perjuangan di “Kota Dosa”)

Bahrain: Perjuangan di “Kota Dosa”
dina

©Dina Y. Sulaeman

"Manama is one such beautiful city, where there is river of alcohol and fishes of pretty girls," demikian promosi di sebuah situs traveling.

Bila Anda browsing di situs-situs traveling tentang tempat-tempat favorit untuk berpesiar, sangat mungkin Anda menemukan kategori "sin city" (kota dosa). Ada sepuluh kota ‘paling berdosa’ di dunia ini, tempat di mana kaum hedonis difasilitasi dalam melampiaskan nafsu bejat mereka, mulai dari minuman keras, judi, hingga mencari pelacur. Kota dosa urutan 10 adalah Berlin, urutan 9 adalah Macau, urutan pertama adalah Pattaya. Dan, Manama, ibu kota Bahrain yang berpenduduk mayoritas muslim itu, berada di urutan ke delapan! Sebuah situs traveling menulis, bahwa tiap akhir pekan, laki-laki dari Arab Saudi akan berbondong-bondong datang ke Bahrain, mengendarai mobil-mobil mewah, melewati jembatan King Fahad. Jembatan sepanjang 16 mil itu juga sering dijuluki jembatan "Johnny Walker", merek minuman keras. Tak heran, karena laki-laki Saudi kebanyakan melewati jembatan itu dengan tujuan untuk berpesta pora menenggak minuman keras yang konon dibatasi di Arab Saudi. Masih menurut situs traveling itu, pelacur juga mudah didapat di Manama. Sungguh sebuah kota yang bergelimang dosa.

Dan, menurut Anda, bagaimana perasaan rakyat Bahrain? Bahrain adalah sebuah negara di Timur Tengah dengan budaya Islam yang sangat kental. Penduduknya adalah muslim, yang kebetulan 60%-nya bermazhab Syiah. Kaum muslim, apapun mazhabnya, bila hidup di tengah kebejatan dan kebobrokan yang dipertontonkan secara terang-terangan seperti yang terjadi di ‘kota dosa’ itu, pastilah akan merasa terhina. Ketika rasa terhina rakyat Bahrain mencapai puncaknya, mereka bangkit untuk menuntut pergantian rezim.

Ketika gelombang protes rakyat Bahrain semakin memuncak, para lelaki dari Arab Saudi juga datang berbondong-bondong melewati jembatan Johnny Walker itu. Namun, kali ini mereka datang dengan membawa senjata. Moncong senjata diarahkan kepada para demonstran yang bertangan kosong.

Tepat tanggal 14 Maret, sekitar 1000 tentara Saudi memasuki Manama dengan tujuan untuk membantu rezim Al Khalifa dalam membungkam demonstrasi rakyat Bahrain. Mereka menyerbu kampus Bahrain University, menembaki sekitar 350 pemuda muslim yang berdemo menuntut demokrasi, dengan gas air mata dan peluru karet. Mereka juga merangsek ke lapangan Pearl tempat berkumpulnya para demonstran dan kembali menyerang tanpa kenal ampun. Puluhan orang gugur dan ratusan lainnya terluka.

Serbuan pasukan dari Arab Saudi ini terjadi hanya dua hari setelah Menhan AS, Robert Gates, menemui Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa di Manama. Sebagian besar analisis politik yang saya baca menyebutkan bahwa dalam kunjungan ini keduanya memang saling bersepakat untuk mempertahankan rezim Al Khalifa di Bahrain dengan cara apapun, termasuk dengan membunuhi rakyat Bahrain. Tentu saja, AS tetap beretorika dan menyatakan ‘menyesalkan kekerasan yang terjadi di Manama."

AS dan Uni Eropa telah memertontonkan kemunafikan paling dahsyat: mengirim pasukan ke Libya untuk ‘membebaskan’ rakyat Libya dari Qaddafi serta mendorong terjadinya demokratisasi di Libya; namun pada saat yang sama, membiarkan (dan bahkan mendukung) raja-raja Arab membungkam tuntutan demokrasi di Bahrain. Kemunafkan mereka sudah bukan rahasia lagi. Standar ganda Barat dalam menghadapi Bahrain dan Libya hanyalah pengulangan dari sekian banyak standar ganda yang mereka pertontonkan sepanjang sejarah.

Namun yang menyedihkan adalah sikap kaum muslimin: mengapa hanya karena kebetulan penduduk Bahrain mayoritasnya Syiah, lalu mereka dianggap tak patut dibela? Tidakkah sikap seperti ini setali tiga uang dengan sikap AS dan sekutunya? (IRIB)

sumber asli radio Iran Bahasa Indonesia : http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=31690:bahrain-perjuangan-di-kota-dosa&catid=75:artikel&Itemid=6

Posted April 20, 2011 by ridwan mustofa in MasihBelajar

Tanda-Tanda Aliran Sesat

Tanda-Tanda Aliran Sesat

Pada beberapa waktu yang lalu, Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang sesatnya aliran Ahmadiyah. Terdapat sekian banyak dalil yang diajukan oleh MUI sebagai bukti-bukti kesesatan Ahmadiyah. Dalam sebuah pertemuan di Surabaya saya mengemukakan bahwa aliran Wahhabi atau Salafi juga termasuk aliran sesat. Mendengar pernyataan ini salah seorang peserta diskusi mengajukan pertanyaan, apa bukti-bukti atau dalil-dalil kesesatan Wahhabi?

Menjawab pertanyaan tersebut, saya menjelaskan, bahwa al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi telah menguraikan dalam kitabnya, al-I’tisham tentang tanda-tanda ahli bid’ah atau aliran sesat. Menurut beliau ada dua macam tanda-tanda aliran sesat. (1) tanda-tanda terperinci, yang telah diuraikan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang menerangkan tentang sekte-sekte dalam Islam seperti al-Milal wa al-Nihal, al-Farq bayna al-Firaq dan lain-lain. (2) tanda-tanda umum. Menurut Asy-Syathibi, secara umum tanda-tanda aliran sesat itu ada tiga.

Perpecahan dan Perceraiberaian

Pertama, terjadinya perpecahan di antara mereka. Hal tersebut seperti telah diingatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”, (QS. 3 : 105). “Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat”, (QS. 5 : 64). Dalam hadits shahih, melalui Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha pada kamu tiga perkara dan membenci tiga perkara. Allah ridha kamu menyembah-Nya dan janganlah kamu mempersekutukannya, kamu berpegang dengan tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai…”

Kemudian Asy-Syathibi mengutip pernyataan sebagian ulama, bahwa para sahabat banyak yang berbeda pendapat sepeninggal Nabi shallallahu alaihi wasallam, tetapi mereka tidak bercerai berai. Karena perbedaan mereka berkaitan dengan hal-hal yang masuk dalam konteks ijtihad dan istinbath dari al-Qur’an dan Sunnah dalam hukum-hukum yang tidak mereka temukan nash-nya.

Jadi, setiap persoalan yang timbul dalam Islam, lalu orang-orang berbeda pendapat mengenai hal tersebut dan perbedaan itu tidak menimbulkan permusuhan, kebencian dan perpecahan, maka kami meyakini bahwa persoalan tersebut masuk dalam koridor Islam. Sedangkan setiap persoalan yang timbul dalam Islam, lalu menyebabkan permusuhan, kebencian, saling membelakangi dan memutus hubungan, maka hal itu kami yakini bukan termasuk urusan agama. Persoalan tersebut berarti termasuk yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam menafsirkan ayat berikut ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, siapa yang dimaksud dalam ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka”, (QS. 6 : 159)?” ‘Aisyah menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Mereka adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu, ahli bid’ah dan aliran sesat dari umat ini.” Demikian uraian Asy-Syathibi.

Setelah menguraikan demikian, kemudian Asy-Syathibi mencontohkan dengan aliran Khawarij. Di mana Khawarij memecah belah umat Islam, dan bahkan sesama mereka juga terjadi perpecahan. Mereka sebenarnya yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Mereka akan membunuh orang-orang Islam, tetapi membiarkan para penyembah berhala.”

Berkaitan dengan aliran Wahhabi, agaknya terdapat kemiripan antara Wahhabi dengan Khawarij, yaitu menjadi pemecah belah umat Islam dan bahkan sesama mereka juga terjadi perpecahan. Perpecahan sesama Wahhabi telah dibeberkan oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad al-Badr, dosen di Jami’ah Islamiyah, Madinah al-Munawwaroh dalam bukunya, Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Mushri.

Ada kisah menarik berkaitan dengan perpecahan di kalangan Wahhabi. AD, salah seorang teman saya bercerita pengalaman pribadinya kepada saya. “Pada April 2010 saya mengikuti daurah (pelatihan) tentang aliran Syi’ah di Jakarta yang diadakan oleh salah satu ormas Islam di Indonesia. Daurah itu dilaksanakan di Gedung LPMP Jakarta Selatan dengan peserta dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dalam daurah tersebut, salah seorang pemateri yang beraliran Salafi berkata, “Aliran Syi’ah itu pecah belah menjadi 300 aliran lebih. Antara yang satu dengan yang lain, saling membid’ahkan dan bahkan saling mengkafirkan. Jadi, itulah tanda-tanda ahli bid’ah, sesama kelompoknya saja saling membid’ahkan dan saling mengkafirkan. Kalau Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak demikian. Tidak saling membid’ahkan, apalagi saling mengkafirkan.” Demikian kata pemateri Salafi itu.

Setelah sesi dialog selesai, saya menghampiri pemateri Salafi tadi dan bertanya, “Ustadz, Anda tadi mengatakan bahwa tanda-tanda ahli bid’ah itu, sesama kelompoknya terjadi perpecahan, saling membid’ahkan dan saling mengkafirkan. Sedangkan Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak demikian. Ustadz, saya sekarang bertanya, siapa yang dimaksud Ahlussunnah Wal-Jama’ah menurut Ustadz? Bukankah sesama ulama Salafi di Timur Tengah yang mengklaim Ahlussunnah Wal-Jama’ah, juga terjadi perpecahan, saling membid’ahkan dan bahkan saling mengkafirkan.

Misalnya Abdul Muhsin al-’Abbad dari Madinah menganggap al-Albani berfaham Murji’ah. Hamud al-Tuwaijiri dari Riyadh menilai al-Albani telah mulhid (tersesat). Al-Albani juga memvonis tokoh Wahhabi di Saudi Arabia yang mengkritiknya, sebagai musuh tauhid dan sunnah. Komisi fatwa Saudi Arabia yang beranggotakan al-Fauzan dan al-Ghudyan, serta ketuanya Abdul Aziz Alus-Syaikh memvonis Ali Hasan al-Halabi, murid al-Albani dan ulama Wahhabi yang tinggal di Yordania, berfaham Murji’ah dan Khawarij.

Kemudian Husain Alus-Syaikh yang tinggal di Madinah membela al-Halabi dan mengatakan bahwa yang membid’ahkan al-Halabi adalah ahli-bid’ah dan bahwa al-Fauzan telah berbohong dalam fatwanya tentang al-Halabi. Al-Halabi pun membalas juga dengan mengatakan, bahwa Safar al-Hawali, pengikut Wahhabi di Saudi Arabia, beraliran Murji’ah. Ahmad bin Yahya al-Najmi, ulama Wahhabi di Saudi Arabia, memvonis al-Huwaini dan al-Mighrawi yang tinggal di Mesir mengikuti faham Khawarij. Falih al-Harbi dan Fauzi al-Atsari dari Bahrain menuduh Rabi’ al-Madkhali dan Wahhabi Saudi lainnya mengikuti faham Murji’ah. Dan Banyak pula ulama Wahhabi yang hampir saja menganggap Bakar Abu Zaid, ulama Wahhabi yang tinggal di Riyadh, keluar dari mainstream Wahhabi karena karangannya yang berjudul Tashnif al-Nas baina al-Zhann wa al-Yaqin.

Dengan kenyataan terjadinya perpecahan di kalangan ulama Salafi seperti ini, menurut Ustadz, layakkah para ulama Salafi tadi disebut Ahlussunnah Wal-Jama’ah?” Mendengar pertanyaan tersebut, Ustadz Salafi itu hanya menjawab: “Wah, kalau begitu, saya tidak tahu juga ya”. Demikian jawaban Ustadz Salafi itu yang tampaknya kebingungan.” Demikian kisah teman saya, AD.

Beberapa bulan sebelumnya, ketika data-data perpecahan di kalangan ulama Salafi di Timur Tengah tersebut disampaikan kepada Ustadz Ali Musri, tokoh Wahhabi dari Sumatera yang sekarang tinggal di Jember, Ustadz Ali Musri langsung mengatakan: “Data ini fitnah. Di kalangan ulama Salafi tidak ada perpecehan.” Demikian jawaban Ustadz Ali Musri pada waktu itu.

Namun tanpa diduga sebelumnya, beberapa hari kemudian, Ustadz Ali Musri membagi-bagikan beberapa buku kecil kepada mahasiswanya di STAIN Jember. Ketika saya mengajar di STAIN Jember, sebagian mahasiswa yang menerima buku-buku tersebut, meminjamkannya kepada saya. Dan ternyata, di antara buku tersebut ada yang berjudul, Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, karangan Dr. Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad al-Badar, dosen Ustadz Ali Musri ketika kuliah di Jami’ah Islamiyah, Madinah al-Munawwaroh. Ternyata dalam kitab Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, Dr. Abdul Muhsin membeberkan terjadinya perpecahan di kalangan Salafi yang sangat parah dan sampai klimaks, sampai pada batas saling membid’ahkan, tidak bertegur sapa, memutus hubungan dan sebagainya. Subhanallah, kesesatan suatu golongan dibeberkan oleh orang dalam sendiri. “Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya”, (QS. 12 : 26).

Mengikuti Teks Mutasyabihat

Kedua, mengikuti teks mutasyabihat, seperti yang diingatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya”. (QS. 3 : 7). Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang sesat selalu mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Mereka suka mengikuti teks yang mutasyabih, bukan yang muhkam.

Menurut Asy-Syathibi, yang dimaksud mutasyabih di sini adalah teks yang samar maknanya dan belum dijelaskan maksudnya. Menurutnya, mutasyabih itu ada dua; (1) mutasyabih haqiqi seperti lafal-lafal yang mujmal (global) dan ayat-ayat yang secara literal menunjukkan keserupaan Allah subhanahu wa ta’ala dengan makhluk. Dan (2) mutasyabih relatif (idhafi), yaitu ayat yang membutuhkan dalil eksternal untuk menjelaskan makna yang sebenarnya, meskipun secara sepintas, teks tersebut memiliki kejelasan makna, seperti ketika orang-orang Khawarij berupaya membatalkan arbitrase mengambil dalil dari ayat, “ini al-hukmu illa lillah (hukum hanya milik Allah)”. Secara literal, ayat tersebut dapat dibenarkan menjadi dalil mereka. Tetapi apabila dikaji lebih mendalam, ayat tersebut masih membutuhkan penjelasan. Berkaitan dengan hal ini Ibn Abbas memberikan penjelasan, bahwa hukum Allah subhanahu wa ta’ala itu terkadang terjadi tanpa proses arbitrase, karena ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita melakukan arbitrase, maka hukum yang menjadi keputusannya juga dianggap sebagai hukum Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula pernyataan Khawarij yang menyalahkan Sayidina Ali radhiyallahu anhu. Menurut Khawarij, “Ali telah memerangi musuhnya, tetapi tidak melakukan penawanan.” Di sini kaum Khawarij membatasi logika mereka pada satu sisi saja, yaitu kalau memang kelompok ‘Aisyah dan Muawiyah itu boleh diperangi, mengapa mereka tidak dijadikan tawanan oleh Ali sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menawan musuh-musuhnya dalam peperangan? Dalam logika berpikir ini, Khawarij telah meninggalkan sisi lain, yaitu sisi yang dijelaskan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” (QS. 49 : 9).

Ayat tersebut menjelaskan tentang peperangan tanpa operasi penawanan sesudahnya terhadap pihak yang kalah. Hal ini yang tidak disadari oleh kaum Khawarij. Akan tetapi dalam perdebatan dengan Khawarij, Ibn Abbas mengingatkan mereka pada aspek yang lebih mematahkan, yaitu bahwa jika dalam peperangan Ali radhiyallahu anhu terjadi operasi penawanan, maka sebagian mereka akan mendapat bagian Ummul Mu’minin ‘Aisyah sebagai tawanannya. Dengan demikian, pada akhirnya mereka akan menyalahi al-Qur’an, yang mereka klaim berpegang teguh dengannya.

Berkaitan dengan aliran Wahhabi, kita dapati mereka selalu berpegangan dengan ayat-ayat mutasyabihat. Misalnya ketika kaum Wahhabi membaca ayat al-Qur’an, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”, (QS. 39 : 3), maka mereka mengatakan bahwa orang yang berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala melalui perantara (tawassul) orang yang sudah wafat, berarti telah syirik dan kafir. Kaum Wahhabi lupa, bahwa di samping mereka tidak memahami makna ibadah secara benar, mereka juga tidak menyadari bahwa bertawassul dengan para nabi dan orang-orang saleh, telah diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, tabi’in dan generasi penerusnya. Sehingga dengan pemahaman yang dangkal terhadap ayat tersebut, Wahhabi akhirnya terjerumus pada pengkafiran terhadap kaum Muslimin. Dan jika diamati dengan seksama, dalam setiap pendapat yang keluar dari mainstream kaum Muslimin, kaum Wahhabi biasanya mengikuti teks-teks literal yang tidak dipahami maknanya secara benar. Al-Imam Asy-Syathibi berkata dalam kitabnya al-I’tisham yang sangat populer:

“Renungkanlah, logika berpikir mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, dapat membawa seseorang pada kesesatan dan keluar dari jamaah. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, maka merekalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah (sebagai orang-orang yang sesat). Hati-hatilah dengan mereka”.

Mengikuti Hawa Nafsu

Ketiga, mengikuti hawa nafsu sebagaimana diingatkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan (zaigh)”, (QS. 3 : 3). Kesesatan (zaigh) adalah lari dari kebenaran karena mengikuti hawa nafsu. Dalam ayat lain, “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (QS. 28 : 50).

Ada kisah menarik berkaitan dengan mengikuti hawa nafsu ini. Ketika orang-orang Khawarij mengasingkan diri dan menjadi kekuatan oposisi terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, Ali selalu didatangi orang-orang yang memberinya saran: “Wahai Amirul Mu’minin, mereka melakukan gerakan melawan Anda.” Ali radhiyallahu anhu hanya menjawab: “Biarkan saja mereka. Aku tidak akan memerangi mereka, sebelum mereka memerangiku. Dan mereka pasti melakukannya.” Sampai akhirnya pada suatu hari, Ibn Abbas mendatanginya sebelum waktu zhuhur dan berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, aku mohon shalat zhuhur agak diakhirkan, aku hendak mendatangi mereka (Khawarij) untuk berdialog dengan mereka.” Ali radhiyallahu anhu menjawab: “Aku khawatir mereka mengapa-apakanmu.” Ibn Abbas berkata: “Tidak perlu khawatir. Aku laki-laki yang baik budi pekertinya dan tidak pernah menyakiti orang.” Akhirnya Ali radhiyallahu anhu merestuinya. Lalu Ibn Abbas memakai pakaian yang paling bagus produk negeri Yaman.

Ibn Abbas berkata: “Aku menyisir rambutku dengan rapi dan mendatangi mereka pada waktu terik matahari. Setelah aku mendatangi mereka, aku tidak pernah melihat orang yang lebih bersungguh-sungguh dari pada mereka. Pada dahi mereka tampak sekali bekas sujud. Tangan mereka kasar seperti kaki onta. Dari wajah mereka, tampak sekali kalau mereka tidak tidur malam untuk beribadah. Lalu aku mengucapkan salam kepada mereka. Mereka menjawab: “Selamat datang Ibn Abbas. Apa keperluanmu?”

Aku menjawab: “Aku datang mewakili kaum Muhajirin dan Anshar serta menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al-Qur’an turun di tengah-tengah mereka. Mereka lebih mengetahui maksud al-Qur’an dari pada kalian. Lalu sebagian mereka berkata, “Jangan berdebat dengan kaum Quraisy, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar”. (QS. 43 : 58). Kemudian ada dua atau tiga orang berkata: “Kita akan berdialog dengan Ibn Abbas.” Kemudian terjadi dialog antara Ibn Abbas dengan mereka. Setelah Ibn Abbas berhasil mematahkan argumentasi mereka, maka 2000 orang Khawarij kembali kepada barisan Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Sementara yang lain tetap bersikeras dengan pendiriannya. 2000 orang tersebut kembali kepada kelompok kaum Muslimin, karena berhasil mengalahkan hawa nafsu mereka. Sementara yang lainnya, telah dikalahkan oleh hawa nafsunya, sehingga bertahan dalam kekeliruan.

Kita seringkali melihat atau mendengar kisah perdebatan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah dengan tokoh-tokoh ahli bid’ah, misalnya orang Syi’ah, Wahhabi, atau lainnya. Akan tetapi meskipun mereka berulangkali dikalahkan dalam perdebatan, dengan dalil-dalil al-Qur’an, Sunnah dan pandangan ulama salaf, mereka tidak pernah kembali kepada kebenaran, karena hawa nafsu telah mengalahkan mereka.

Tidak Mengetahui Posisi Sunnah

Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya al-I’tisham membuat sebuah pertanyaan yang dijawabnya sendiri, mengapa seseorang itu mengikuti hawa nafsu dan kemudian pendapat-pendapatnya menjelma dalam bentuk sebuah aliran sesat? Hal tersebut ada kaitanya dengan latar belakang lahirnya aliran-aliran sesat, yang sebagian besar berangkat dari ketidaktahuan terhadap Sunnah. Hal ini seperti diingatkan oleh sebuah hadits shahih, “Manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin”.

Menurut Asy-Syathibi, setiap orang itu mengetahui terhadap dirinya apakah ilmunya sampai pada derajat menjadi mufti atau tidak. Ia juga mengetahui apabila melakukan introspeksi diri ketika ditanya tentang sesuatu, apakah ia berpendapat dengan ilmu pengetahuan yang terang tanpa kekaburan atau bahkan sebaliknya. Ia juga mengetahui ketika dirinya meragukan ilmu yang dimilikinya. Oleh karena itu, menurut Asy-Syathibi, seorang alim apabila keilmuannya belum diakui oleh para ulama, maka kealimannya dianggap tidak ada, sampai akhirnya para ulama menyaksikan kealimannya.

Kaitannya dengan aliran Wahhabi, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sang pendiri aliran Wahhabi sendiri, termasuk orang yang tidak jelas kealimannya. Tidak seorang pun dari kalangan ulama yang semasa dengan Syaikh Muhammad, yang mengakui kealimannya. Bahkan menurut Syaikh Ibn Humaid dalam al-Suhub al-Wabilah, kitab yang menghimpun biografi para ulama madzhab Hanbali, Syaikh Muhammad sering dimarahi ayahnya, karena ia tidak rajin mempelajari ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Pernyataan Syaikh Ibn Humaid, diperkuat dengan pernyataan Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, kakak kandung Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, yang mengatakan dalam kitabnya al-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah:

“Hari ini manusia mendapat ujian dengan tampilnya seseorang yang menisbatkan dirinya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah dan menggali hukum dari ilmu-ilmu al-Qur’an dan Sunnah. Ia tidak peduli dengan orang yang berbeda dengannya. Apabila ia diminta membandingkan pendapatnya terhadap para ulama, ia tidak mau. Bahkan ia mewajibkan manusia mengikuti pendapat dan konsepnya. Orang yang menyelisihinya, dianggap kafir. Padahal tak satu pun dari syarat-syarat ijtihad ia penuhi, bahkan demi Allah, 1 % pun ia tidak memiliknya. Meski demikian pandangannya laku di kalangan orang-orang awam. Inna lillah wa inna ilayhi raji’un.” (Syaikh Sulaiman, al-Shawaiq al-’Ilahiyyah, hal. 5).

Dewasa ini, para pengikut aliran Wahhabi atau Salafi, sebagian besar memang orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan agama yang memadai. Ada kisah menarik berkaitan hal ini. Bahrul Ulum, teman saya yang tinggal di Surabaya, bercerita kepada saya.

“Suatu hari saya mendatangi Ustadz Mahrus Ali yang populer dengan mantan kiai NU, di rumahnya, Waru Sidoarjo. Ternyata Ustadz Mahrus Ali sedang menulis buku yang isinya mengharamkan ayam. Melihat tulisan tersebut, saya segera membuka Shahih al-Bukhari, dan di situ ada sebuah hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah makan ayam. Saya tunjukkan kepada Ustadz Mahrus Ali, hadits dalam Shahih al-Bukhari itu sambil menyerahkan kitabnya. Ternyata, di luar dugaan, Ustadz Mahrus Ali bilang, “Hadits ini hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja.” Mendengar jawaban tersebut, saya terkejut. Ternyata Ustadz Mahrus Ali mengikuti logika orientalis, menolak otoritas hadits ahad.” Demikian cerita Bahrul Ulum.

Menurut saya, sebenarnya Mahrus Ali itu bukan bermaksud mengikuti logika orientalis. Ia hanya bermaksud menutupi rasa malunya saja dengan alasan bahwa hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja. Sebab dalam logika Wahhabi, kedudukan hadits ahad (kebalikan hadits mutawatir) sama dengan hadits mutawatir, sama-sama menjadi pedoman dalam akidah dan hukum.

Sekitar dua tahun yang lalu, saya sering mendapat pertanyaan, mengapa LBM NU Jember tidak menulis bantahan terhadap buku-buku Mahrus Ali yang baru. LBM hanya membantah buku Mahrus Ali yang pertama. Kami dari tim LBM NU Jember memang tidak menulis bantahan terhadap buku-buku Mahrus Ali yang baru, karena disamping buku-buku yang baru, dalil dan argumentasinya sama dengan buku yang pertama, juga dalam buku-buku yang baru, pendapat-pendapatnya banyak yang berangkat dari ketidaktahuan terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang terdapat dalam kitab-kitab hadits.

Misalnya dalam buku kedua, Mahrus Ali mengatakan, “Kini, saya tidak mau lagi mencium tangan guru-guru saya, karena saya tidak pernah melihat para sahabat mencium tangan Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Pernyataan ini jelas menyingkap siapa sebenarnya Mahrus Ali. Bukankah hadits-hadits yang menerangkan bahwa para sahabat mencium tangan Nabi shallallahu alaihi wasallam terdapat dalam kitab standart yang enam. Bahkan sebagian ulama ahli hadits dari generasi salaf, yaitu al-Imam al-Hafizh Abu Bakr Ibn al-Muqri’ al-Ashbihani, menulis kitab khusus tentang mencium tangan berjudul Juz’ fi Taqbil al-Yad. Tetapi Ustadz Mahrus Ali, seperti kebiasaan kaum Wahhabi, memang sangat mudah mendistribusikan vonis bid’ah dan syirik terhadap hal-hal yang tidak disetujuinya, tanpa mengetahui dalil-dalil yang semestinya.

Menghujat Generasi Salaf

Menurut al-Imam Asy-Syathibi, dari ketiga tanda-tanda aliran sesat di atas, tanda yang pertama diterangkan dalam hadits-hadits iftiraq (yang menerangkan tentang perpecahan umat Islam). Sedangkan tanda-tanda kedua dan ketiga, yaitu mengikuti teks mutasyabihat dan hawa nafsu, tidak diterangkan dalam hadits-hadits iftiraq, akan tetapi disebutkan dalam ayat al-Qur’an (QS. 3 : 7).

Selain hal tersebut, Asy-Syathibi juga menerangkan bahwa ciri khas ahli bid’ah dapat diketahui dari awal pembicaraan. Yaitu setiap bertemu orang lain, ia akan membeberkan kejelekan orang-orang terdahulu yang dikenal alim, saleh dan menjadi panutan umat. Sebaliknya ia akan menyanjung setinggi langit, orang-orang yang berbeda dengan para tokoh panutan tersebut.

Dalam hal ini Asy-Syathibi memberikan contoh bagi kita, bagaimana kaum Khawarij mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Padahal para sahabat telah dipuji oleh Allah dalam al-Qur’an dan dipuji oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits-hadits shahih. Sebaliknya, kaum Khawarij justru memuji Abdurrahman bin Muljam al-Muradi karena telah membunuh Sayidina Ali radhiyallahu anhu.

Perbuatan serupa juga dilakukan oleh orang-orang Syi’ah. Syi’ah telah menghujat dan mengkafirkan para sahabat. Menurut Syiah, seperti dalam riwayat al-Kulaini dalam Ushul al-Kafi, sesudah Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, semua sahabat menjadi murtad kecuali tiga orang saja, yaitu Salman al-Farisi, Abu Dzarr al-Ghifari dan Miqdad bin al-Aswad.

Sementara kaum Wahhabi, secara ekslpisit tidak mengkafirkan para sahabat dan generasi salaf. Namun dari pandangan mereka yang membid’ahkan dan mengkafirkan beberapa amaliah generasi salaf sejak masa sahabat, tabi’in dan generasi penerusnya, seperti amaliah tawassul, istighatsah, tabarruk dan lain-lain, sebagian ulama menganggap kaum Wahhabi telah membid’ahkan dan mengkafirkan generasi salaf secara implisit. Bukankah amaliah tawassul, tabarruk, istighatsah dan lain-lain yang menjadi isu-isu kontroversi antara kaum Sunni dengan Wahhabi, telah diajarkan oleh kaum salaf, generasi sahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya. Sebaliknya, kaum Wahhabi justru menganggap orang-orang Musyrik seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lain-lain lebih mantap tauhidnya dari pada kaum Muslimin yang bertawassul.

Belakangan, dari kaum Wahhabi kontemporer tidak sedikit terlontar pernyataan tokoh-tokoh mereka yang menistakan generasi salaf secara parsial (juz’i). Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, misalnya menganggap sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallahu anhu telah musyrik, dalam komentarnya terhadap kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari karena melakukan istighatsah di makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu. Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin dalam fatwanya, menganggap al-Imam al-Nawawi dan al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani bukan pengikut Ahlussunnah.

Syaikh Nashir al-Albani dalam fatwanya mengkafirkan al-Imam al-Bukhari karena melakukan ta’wil terhadap ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Dalam kitab al-Tawassul Ahkamuhu wa Anwa’uhu, al-Albani juga mencela Sayyidah ‘Aisyah, dan menganggapnya tidak mengetahui kesyirikan. Syaikh Ahmad bin Sa’ad bin Hamdan al-Ghamidi, menganggap al-Imam al-Hafizh al-Lalika’i, pengarang kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, tidak bersih dari kesyirikan. Demikian sekelumit contoh penistaan tokoh-tokoh Wahhabi terhadap generasi salaf dan para ulama terkemuka secara parsial.

Sulit Diajak Dialog Terbuka

Pada bulan Maret 2008, tim LBM NU Jember mengajak Mahrus Ali untuk berdialog dan berdebat secara terbuka di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Hasilnya, dengan berbagai alasan Mahrus Ali tidak siap datang. Sesudah itu, beberapa kali ia diajak dialog di Universitas Diponegoro Semarang, kemudian di Universitas Brawijaya Malang, ia juga tidak siap. Dan terakhir dia diajak dialog di masjid di sebelah rumah tempat tinggalnya, ternyata ia tidak datang. Sepertinya ia tidak berani berdialog terbuka dengan para ulama, karena ia merasa yakin bahwa dalil-dalil yang dimilikinya sangat lemah sekali dan tidak akan mampu bertahan di arena perdebatan ilmiah.

Al-Imam Asy-Syathibi menjelaskan dalam al-I’tisham, bahwa sebagian besar kaum ahli bid’ah dan pengikut aliran sesat tidak suka berdialog dan berdebat dengan pihak lain. Menurut Asy-Syathibi, mereka tidak akan membicarakan pendapatnya dengan orang yang alim, khawatir kelihatan kalau pendapat mereka tidak memiliki landasan dalil syar’i yang otoritatif. Sikap yang mereka tampakkan ketika bertemu dengan orang alim adalah sikap pura-pura. Tetapi ketika mereka bertemu dengan orang awam, mereka akan mengajukan sekian banyak kritik dan sanggahan terhadap ajaran dan amaliah umat Islam yang sesuai dengan syari’at. Sedikit demi sedikit, mereka masukkan ajaran bid’ahnya kepada kalangan awam.

Dalam beberapa kali diskusi dengan kaum Wahhabi, seperti awal Agustus 2010 di Sampang, beberapa bulan sebelumnya di Yogyakarta dan Juli 2010 di Denpasar, tidak sedikit dari kalangan Wahhabi yang melontarkan pernyataan kepada saya, “Kita tidak perlu berdialog soal-soal khilafiyah antara Sunni dengan Wahhabi. Ini sama sekali tidak penting. Musuh kita orang-orang kafir, Amerika, Zionis dan lainnya yang dengan rapi berupaya menghancurkan umat Islam.” Begitulah kira-kira ucapan mereka.

Tentu saja ucapan itu mereka lontarkan ketika posisi mereka terdesak dalam arena perdebatan dan diskusi ilmiah yang disaksikan oleh publik. Mereka merasa khawatir, pandangan-pandangan mereka yang keluar dari mainstream kaum Muslimin akan terbongkar kelemahan dan kerapuhannya. Terbukti, mereka sendiri ketika berbicara di hadapan orang awam, tidak pernah berhenti membid’ahkan dan mengkafirkan umat Islam di luar golongan mereka. Bahkan selama ini, kelompok mereka sangat agresif membicarakan dan menyebarkan isu-isu khilafiyah antara Sunni dengan Wahhabi, maupun dengan lainnya. Al-Imam Asy-Syathibi berkata dalam al-I’tisham:

“Jangan berharap mereka (ahli bid’ah) akan berdialog dengan seorang alim yang pakar dalam ilmunya.”

SUMBER : http://sidogiri.net/index.php/artikel/view/266

Posted April 20, 2011 by ridwan mustofa in MasihBelajar

Mengenal Sosok Ulama Sayyid Abdullah Siddiq al-Ghumari

Sayyid Abdullah Siddiq al-Ghumari

#fullpost{display:inline;}

Beliau ialah al-Imam al-’Allamah al-Hafiz al-Muhaddith al-Usuli al-Muhaqqiq al-Mudaqqiq Abul Fadhl Sayyid Abdullah bin Muhammad bin Siddiq bin Ahmad bin Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Mukmin bin Ali bin al-Hasan bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdullah bin Isa bin Sa’id bin Mas’ud bin al-Fudhoil bin Ali bin Umar bin al-’Arabi bin ’Allal bin Musa bin Ahmad bin Daud bin Maulana Idris al-Asghor bin Maulana Idris al-Akbar bin Abdullah al-Kamil bin al-Hasan al-Muthanna bin Imam al-Hasan al-Mujtaba bin Amirul Mukminin Sayyiduna Ali dan Sayyidah Fatimah al-Zahra’ binti Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w. Berkata Sayyid Abdullah al-Ghumari di dalam kitab beliau yang berjudul Sabilut Taufiq dan Bida’ut Tafasir : Inilah susur galur keturunan kami yang popular di kalangan keluarga kami yang menetap di wilayah Ghumarah dan selainnya.

Kelahiran

Beliau dilahirkan di bandar Tonjah (Tangier), Morocco pada hujung bulan Jamadil Akhir atau awal bulan Rejab tahun 1328 Hijrah (1910 Masihi)

Latar belakang keluarga

Sayyid Abdullah al-Ghumari dilahirkan di kalangan keluarga yang terkenal dengan ketaqwaan, keilmuan, kesolehan dan kemuliaan ditambah dengan kesucian keturunan. Ayahanda beliau, Sayyid Muhammad Siddiq al-Ghumari merupakan syeikh para ulama’ Morocco. Beliau telah mengasaskan Madrasah Siddiqiyyah yang berjaya melahirkan ramai para ulama’ yang $berwibawa. Datuk beliau sebelah ibu, Sayyid Ibnu ’Ajibah al-Hasani merupakan seorang ulama’ yang tidak asing lagi. Beliau merupakan pengarang kitab tafsir yang berjudul Bahrul Madid serta syarah Hikam ’Atoiyyah yang bertajuk Iqazul Himam. Abang beliau, Sayyid Ahmad al-Ghumari merupakan seorang tokoh hadith yang terkemuka sehingga mencapai taraf al-Hafiz. Beliau juga telah menghasilkan karya-karya yang bernilai sehingga mencecah ratusan buah. Adik-adik beliau, Sayyid Abdul Aziz, Sayyid Abdul Hayy, Sayyid Ibrahim, Sayyid Hasan dan Sayyid Muhammad Zamzami pula merupakan tokoh-tokoh muhaddithin dan muhaqqiqin. Di kalangan mereka ada yang muncul sebagai pakar tafsir, usul fiqh, hadith dan ilmu-ilmu yang lain. Namun keluarga al-Ghumari sememangnya terkenal dengan keilmuan mereka di dalam bidang hadith di wilayah Tonjah sebagaimana keluarga al-Kittani di wilayah Fas (Fez).

Latar belakang pendidikan

Sayyid Abdullah al-Ghumari memulakan pendidikan seawal usia lima tahun. Ayahandanya memasukkan beliau ke pondok dengan tujuan untuk menghafal al-Quran. Lalu beliau mula menghafal al-Quran dengan riwayat Warasy. Setelah itu, beliau menghafal pula al-Quran dengan riwayat Hafs. Di samping itu beliau turut menghafal sebahagian besar matan-matan ilmu seperti nazam al-Kharraz yang berjudul Mauriduz Zomaan, al-Arba’in al-Nawawiyyah, al-Ajurumiyyah, Alfiyyah Ibnu Malik, Bulughul Maram dan Mukhtasar Syeikh Khalil ibnu Ishaq dalam fiqh mazhab Maliki. Setelah itu, dengan perintah ayahandanya, beliau bermusafir ke wilayah Fas untuk menyambung pengajian di Masjid al-Qurowiyyin yang merupakan pusat pengajian terkemuka di Morocco. Beliau menetap di situ selama lebih kurang 6 bulan. Kemudian beliau pulang semula ke Tonjah dan setelah itu beliau kembali menyambung pengajiannya di Fas. Antara subjek yang beliau pelajari di al-Qurowiyyin: 1) Nahu: Alfiyyah Ibnu Malik dengan Syarah Ibnu ‘Aqil dan Hasyiah al-Suja’i. Juga Syarah al-Makudi dengan Hasyiah Ibnu Haj. 2) Fiqh: Mukhtasor Khalil dengan Syarah al-Khurosyi. Juga sebahagian besar Syarah al-Zurqani dan Syarah al-Dirdir daripada bab al-Ijarah sehingga habis. 3) Hadith: Syarah al-Qostollani bagi Sohih al-Bukhari dan Hasyiah al-Syinwani bagi Mukhtasor Ibnu Abi Jamrah. 4) Tafsir: Tafsir al-Jalalain dengan Hasyiah al-Sowi. 5) Tauhid: Kitab al-Tauhid susunan Imam Ibnu ’Asyur. 6) Usul Fiqh: Jam’ul Jawami’ dengan Syarah Jalaluddin al-Mahalli 7) Mantiq: Syarah al-Quwaisani bagi matan al-Sullam. Beliau juga turut mendalami bidang-bidang ilmu yang lain daripada guru yang pelbagai. Setelah menamatkan pengajian di Qurowiyyin, beliau pulang ke Tonjah untuk meneruskan pengajian di Madrasah Siddiqiyyah di bawah seliaan ayahandanya sambil mengajar para pelajar di madrasah tersebut. Dalam tempoh ini juga, ayahandanya memberi galakan supaya beliau mula menulis. Maka beliau mula meringkaskan kitab Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq fi ’Ilmil Usul karangan Imam al-Syaukani. Beliau turut menulis huraian matan Ajurumiyyah dalam ilmu Nahu. Setelah selesai mengarang huraian ini, beliau membentangkannya kepada ayahandanya untuk disemak dan diedit. Setelah itu, abangnya Sayyid Ahmad al-Ghumari menamakan huraian ini dengan judul Tashyidul Mabani litaudhih ma hawathul Muqaddimatul Ajurumiyyah minal Haqaiq wal Ma’ani. Semua ini beliau lakukan ketika masih lagi berusia belasan tahun. Ketika berusia 21 tahun, dengan izin ayahandanya beliau bermusafir ke Mesir bersama abangnya Sayyid Ahmad dan adiknya Sayyid Muhammad Zamzami bagi melanjutkan pengajian di al-Azhar al-Syarif. Di Mesir, bintang beliau sebagai seorang ilmuwan lebih-lebih lagi sebagai seorang muhaddith mula menyinar. Dengan galakan daripada rakan-rakan yang mengenali kewibawaannya, beliau menduduki peperiksaan Syahadah ’Alamiyyah Khassah dalam 12 subjek iaitu Usul Fiqh, Ma’ani, Bayan, Badi’, Nahu, Sorf, Tauhid, Mantiq, Hadith, Mustolah Hadith, Fiqh dan Tafsir. Dalam peperiksaan ini, beliau memperolehi kejayaan yang cemerlang. Setelah itu, beliau sekali lagi menduduki peperiksaan Syahadah ’Alamiyyah al-Azhariyyah dalam subjek yang sama seperti peperiksaan yang lalu. Cuma ditambah 3 lagi subjek iaitu ilmu al-Wadh’u, ’Arudh Qafiah dan Tasawwuf. Dalam peperiksaan ini juga, beliau beroleh kejayaan yang cemerlang dan berita kejayaan beliau disiarkan menerusi akhbar al-Ahram sehingga Syeikh Mahmud Syaltut yang ketika itu merupakan wakil Fakulti Syariah al-Azhar al-Syarif berkata: Kita mengucapkan tahniah kepada peperiksaan Syahadah ’Alamiyyah al-Azhariyyah kerana ianya telah diduduki oleh Syeikh Abdullah yang sememangnya datang dari negaranya dalam keadaan alim.

Kontribusi dan Kegiatan beliau

Setelah menamatkan pengajian, beliau mula mengajar di Masjid al-Azhar al-Syarif di dalam ilmu Nahu, Mantiq, Usul Fiqh dan Balaghah. Di samping itu, beliau turut menyumbangkan karya-karya ilmiah kepada majalah-majalah yang pelbagai antaranya: 1) Majalah Hadyul Islami. 2) Majalah al-Irsyad. 3) Majalah al-Rabitoh al-Islamiyyah. 4) Majalah al-Syarq al-’Arabi. 5) Majalah Nasyrul Fadhoil wal Adabul Islamiyyah. 6) Majalah al-Wasilah. 7) Majalah al-Muslim yang diterbitkan oleh ’Asyirah Muhammadiyyah. Selain itu, beliau mula aktif mengarang pelbagai kitab ilmiah yang bernilai terutama di dalam bidang Hadith di samping mentahqiq beberapa kitab turath. Hubungan beliau dengan pertubuhan & gerakan Islam di Mesir Sayyid Abdullah al-Ghumari sememangnya mempunyai hubungan yang baik dengan beberapa pertubuhan dan gerakan Islam di Mesir antaranya: 1) Pertubuhan al-Hidayah al-Islamiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad al-Khidr al-Husain al-Tunisi. 2) Al-‘Asyirah al-Muhammadiyyah di mana beliau merupakan salah seorang panel fatwa dan ahli jawatankuasa pertubuhan ini yang diasaskan oleh Sayyid Muhammad Zakiyyuddin Ibrahim. 3) Pertubuhan Nasyrul Fadhoil wal Adabul Islamiyyah. 4) Pertubuhan al-Robitoh al-Islamiyyah. 5) Gerakan al-Ikhwanul Muslimun yang diasaskan oleh Imam al-Syahid Hasan al-Banna. Berkata Sayyid Abdullah: Saya mempunyai hubungan yang erat dengan al-Ustaz Hasan al-Banna, pemimpin gerakan al-Ikhwanul Muslimun dan ayahandanya al-Ustaz Ahmad Abdul Rahman, pemilik sanad-sanad yang banyak di mana kami seringkali berhubung dan saling ziarah menziarahi. 6) Pertubuhan wanita yang diasaskan oleh Sayyidah Zainab al-Ghazali di mana Sayyid Abdullah al-Ghumari menyampaikan pengajian mingguan beliau di pusat pertubuhan ini.

Guru-guru beliau

Sayyid Abdullah al-Ghumari memiliki seramai 62 orang guru sebagaimana yang disebut oleh beliau sendiri. Antaranya:

1) Ayahanda beliau sendiri Sayyid Muhammad Siddiq al-Ghumari al-Idrisi al-Hasani.
2) Abang beliau al-Hafiz Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Siddiq al-Ghumari.
3) Sayyid Ahmad Rafi’ al-Tohtowi, musnid negara Mesir.
4) Al-‘Allamah al-Muhaddith Muhammad Zahid al-Kauthari.
5) Al-‘Allamah Syeikh Muhammad Duwaidar al-Kafrawi al-Talawi al-Syafi’e.
6) Al-‘Allamah al-Faqih al-Usuli Syeikh Muhammad al-Tohir bin ‘Asyur al-Tunisi.
7) Al-‘Allamah Syeikh Abdul Baqi al-Ansori al-Laknawi al-Madani. Muhaddith al-Haramain Syeikh Umar Hamdan al-Mahrasi al-Tunisi. 9) Al-‘Allamah Syeikh Abdul Wasi’ bin Yahya al-Wasi’e al-Yamani.
10) Al-‘Allamah al-Faqih Muhsin bin Nasir Bahrobah al-Hadhrami.
11) Al-‘Allamah al-Faqih al-Musnid Abdul Qadir bin Taufiq al-Syalabi al-Tarablasi al-Hanafi.
12) Al-‘Allamah al-Faqih Muhammad bin Muhammad al-Halabi al-Misri al-Syafi’e.
13) Al-‘Allamah Muhammad Imam bin Ibrahim al-Saqa.
14) Syeikh Darul Hadith Damsyiq al-Muhaddith Badruddin Muhammad bin Yusuf al-Hasani.
15) Sayyidah al-Musnidah Ummul Banin Aminah binti Abdul Jalil bin Salim al-Dimasyqiyyah.

Dan lain-lain lagi di beberapa negara Islam seperti Mekah al-Mukarramah, Emiriah Arab Bersatu, Jordan, Sudan dan Qatar.

Murid-murid beliau

Antaranya:

1) Adik-adik beliau sendiri Sayyid Abdul Aziz, Sayyid Abdul Hayy, Sayyid Hasan, Sayyid Ibrahim dan Sayyid Muhammad Zamzami.
2) Al-‘Allamah Syeikh Muhammad al-Hamid al-Hamawi.
3) Al-‘Allamah Syeikh Abdul Aziz ‘Uyun al-Sud al-Himsi.
4) Al-‘Allamah al-Muhaddith Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah al-Halabi.
5) Al-‘Allamah Syeikh Muhammad ‘Awwamah al-Halabi.
6) Al-‘Allamah Syeikh Muhammad Ali al-Murad al-Hamawi.
7) Dr. Abdul Wahhab Abdul Latif. Dr. Ali Juma’ah al-Misri, Mufti Republik Arab Mesir.
9) Sayyid Soleh al-Ja’afari, Imam Masjid al-Azhar suatu ketika dahulu.
10) Syeikh Hamdi Aslan al-Albani.
11) Dr. Mahmud Sa’id Mamduh al-Misri.
12) Syeikh Mahmud Hasan al-Syeikh.
13) Dr. Hanafi Hasanain.
14) Syeikh Husain al-Batanuti.
15) Dr. Faruq Hammadah.
16) Dr. Muhammad Fuad al-Barazi dan ramai lagi dari seluruh pelusuk dunia.

Karya-karya beliau

Sayyid Abdullah al-Ghumari telah menghasilkan pelbagai karangan yang bermutu tinggi hingga mencecah sebanyak 81 buah dalam pelbagai bidang ilmu terutama ilmu Hadith sehinggakan seorang ulama’ pernah berkata sambil menujukan ucapannya kepada Sayyid Abdullah al-Ghumari: Kami menyangka tiada lagi ulama’ Hadith di Mesir dan Timur selain Syeikh Rasyid Ridho dan Syeikh Ahmad Syakir. Namun setelah kami membaca hasil kajian anda dan semakan-semakan anda di dalam bidang Hadith, maka kami mengatakan andalah orang yang ketiga! Antara karya-karya beliau mengikut susunan bidang ilmu: a) Usuluddin: 1) Itqanus Sun’ah fi Tahqiq Ma’nal Bida’ah. 2) Irsyadul Jahilil Ghabiy ila Wujubi’tiqad anna Adam Nabiy. 3) Irghamul Mubtadi’il Ghabiy bijawazit Tawassul bin Nabiy. 4) Al-Tahqiqul Bahir fi Ma’nal Iman Billah wal Yaumil Akhir. 5) Ithaful Azkiya’ bijawazit Tawassul Bil Anbiya’ wal Auliya’. 6) Iqomatul Burhan ‘ala Nuzul ‘Isa fi Akhiriz Zaman dan lain-lain lagi. b) Ulum al-Quran: 1) Al-Ihsan fi Ta’aqqubil Itqan. 2) Bida’ut Tafasir. 3) Bayan Sohihil Aqawil fi Tafsir Ayat Bani Israil. 4) Taudhihul Bayan liwusul Thawabil Quran. 5) Zauqul Halawah bi Bayan Imtina’ Naskhit Tilawah. 6) Al-Ru’ya fil Quran was Sunnah dan lain-lain lagi. c) Ulum Hadith: 1) Al-Ahadith al-Muntaqah fi Fadhoil Sayyidina Rasulillah. 2) Al-Arba’un Hadithan al-Siddiqiyyah. 3) Al-Arba’un al-Ghumariyyah fi Syukrin Ni’am. 4) Asanidul Kutubus Sab’ah fil Hadith. 5) Nihayatul Amal fi Sihhah wa Syarh Hadithil ‘Amal dan lain-lain lagi. d) Fiqh dan Usul Fiqh: 1) Husnut Tafahhum wad Dark Li Masaalatit Tark. 2) Al-Adillah al-Rojihah ’ala Fardhiyyah Qira’atil Fatihah. 3) Al-Istiqso’ li Adillah Tahrimil Istimna’. 4) I’lamur Roki’is Sajid bi Ma’nat Tikhazil Qubur Masajid dan lain-lain lagi. Juga beberapa karangan lagi yang agak banyak untuk disenaraikan di sini dalam pelbagai bidang ilmu.

Sesiapa yang membaca setiap karangan beliau, pasti merasa kagum dengan ketinggian ilmu beliau yang menunjukkan keluasan kajian beliau ditambah dengan kekuatan dalil yang dikemukakan dalam setiap masalah yang beliau bentangkan apatah lagi beliau merupakan seorang pakar hadith yang mencapai martabat al-Hafiz. Tidak keterlaluan saya katakan bahawa Sayyid Abdullah al-Ghumari sememangnya seorang tokoh yang hebat bagi sesiapa yang meneliti karangan beliau dengan pandangan yang saksama tanpa sebarang perasaan ta’sub.

Ujian hidup yang ditempuhi

Sayyid Abdullah al-Ghumari pernah dipenjarakan pada zaman pemerintahan Presiden Jamal Abdul Nasir atas tuduhan mengintip bagi pihak Perancis sedangkan ini merupakan suatu tuduhan palsu melalui perancangan beberapa pihak tertentu yang merasa tergugat dengan kelantangan dan keberanian beliau. Pada asalnya, beliau dijatuhkan hukuman mati, namun setelah mahkamah mendapati beliau tidak bersalah, beliau dikenakan hukuman penjara selama 11 tahun bermula daripada 15 Oktober 1959 hingga 26 Disember 1969. Walaupun berada dalam penjara, ianya tidak menghalang beliau untuk mengarang beberapa karya yang tidak kurang hebatnya.

Kepulangan ke Morocco dan kewafatannya.

Setelah keluar dari penjara, beliau pulang ke Morocco bagi meneruskan perjuangan dalam bidang ilmu. Sayyid Abdullah al-Ghumari telah berada di Mesir selama 40 tahun dan beliau pulang ke tanah airnya untuk menabur bakti buat anak bangsanya di samping meneruskan kelangsungan Madrasah Siddiqiyyah yang telah diasaskan oleh ayahandanya. Setelah menaburkan bakti di Morocco selama lebih kurang 23 tahun, akhirnya beliau menyahut panggilan Ilahi pada hari Khamis 19 Sya’aban 1413 Hijrah (11 Februari 1993) dalam usia 85 tahun. Jasad beliau disemadikan bersebelahan pusara ayahanda dan bondanya yang terletak di Madrasah Siddiqiyyah. Pemergian beliau ditangisi oleh mata-mata yang mencintai beliau dan mengenali kedudukan beliau. Semoga Allah mencucurkan rahmat ke atas roh beliau. Amin.

Posted April 8, 2011 by ridwan mustofa in MasihBelajar

Warga keluhkan HKBP (kasus September 2010)

Inilah Alasan Lengkap Warga Mustika Jaya Tolak Gereja HKBP
hentika

    Dikutip dari Rakyat Merdeka Online Jum’at, 17 September 2010 , 15:25:00 WIB

    Peristiwa penusukan oleh sekelompok orang terhadap jemaat dan pendeta Huria Kristen Batas Protestan (HKBP) pada Minggu lalu (12/9) telah menyita perhatian publik. Masyarakat terbelah menyikapi insiden tersebut. Ada yang langsung mengecam, ada yang bersikap berhati-hati sebelum mengeluarkan sikap, dan tentu ada pula yang tidak mau tahu atas persoalan tersebut.

    Redaksi Rakyat Merdeka Online, menerima e-mail bersifat surat terbuka dari salah seorang warga Mustika Jaya, Bekasi tempat keberadaan gereja HKBP itu, Rahmat Siliwangi. Surat ini sengaja kami publikasi agar menambah data pembanding bagi para pembaca. Tentu sebagai media independen dan terbuka, Redaksi Rakyat Merdeka Online, juga akan memuat bila ada dari pihak HKBP yang membantah isi surat di bawah ini.

    Berikut kutipan lengkap dari surat terbuka Rahmat.

    SAYA warga mustika jaya, Bekasi hanya ingin sharing kenapa sebenarnya kami sulit untuk menerima kehadiran warga HKBP di daerah kami. Dua puluh tahun lalu seorang warga Batak mulai menjadikan rumah tinggalnya sebagai tempat kebaktian. Kami warga perumahan Mustika Jjaya dapat menerima karena kami sangat menghargai toleransi dan kebebasan dalam memilih keyakinan.

    Namun makin lama kami biarkan semakin banyak warga Batak yang sering mondar mandir di perumahan kami. Bahkan perilaku mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri. Selain itu dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi. Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka. Bahkan dalam acara–acara keluarga, mereka sangat mengganggu ketentraman kami sebagai warga asli.

    Ini bukan masalah agama. Karena di tempat kami ada juga warga yang non muslim selain Kristen HKBP.

    Warga selain muslim pun mulai keberatan dengan perilaku dan cara–cara warga HKBP dalam sosial kemasyarakatan. Kesimpulan kami bersama warga–warga non muslim selain jemaat HKPB, jemaat HKBP cenderung kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan.

    Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku.

    Selain itu jika ada acara makan–makan, mereka mulai berani memotong babi dan anjing di sekitar kampung Mustika. Bahkan bau daging–daging itu sampai tercium kemana–mana. Mereka mulai berani keliling kampung dengan bernyanyi–nyani dengan suara dan logat khas batak.

    Pemaksaan cara mereka inilah yang membuat kami sangat kesal dengan tingkah pola mereka. Bahkan mereka mulai berani mendirikan lapo–lapo tuak yang selalu memicu keributan disekitar daerah Mustika Jaya.

    Kemudian, kami warga sekitar, baik itu muslim dan non muslim non HKBP sering mengadakan pertemuan untuk membahas keberadaan warga HKBP (meskipun sebagian besar hanya datang setiap hari Minggu). Kesimpulan dan kesepakatan warga, kami takut jika ini dibiarkan akan merubah tatanan masyarakat kami dari berbagai lintas agama dan suku lain selain Batak.

    Perilaku mereka akan mengubah tatanan kemasyarakatan yang tadinya saling menghormati, toleran, sopan santun, menjadi arogan, mau menang sendiri, mabuk–mabukan dimana saja. Dan makan dengan makanan yang bagi kami sangat menjijikan. Seperti bakar babi dan anjing.

    Dan kami pun mulai melaporkan ke Pemerintah Kota Bekasi mengenai keberadaan mereka sesuai apa adanya. Kami juga meminta Pemkot Bekasi bahkan Kepolisian dan Babinsa di daerah kami untuk berkata apa adanya dan menyelidiki secara langsung perilaku warga HKBP.

    Karena yang kami sampaikan bukanlah omong kosong maka setelah hampir dua puluh tahun kami menderita dengan perilaku HKBP, oleh Pemkot Bekasi kegiatan jemaat mereka dianggap liar. Dan gereja di rumah seorang warga pun disegel oleh Pemkot Bekasi. (Tentunya dengan hasil penyelidikan selama waktu yang cukup dengan melibatkan Kepolisian dan Koramil setempat).

    Jadi maksud saya membuat surat ini pada dasarnya bukan masalah didirikan gereja atau tidak dirikan gereja yang menjadi pokok permasalahan. Tapi yang akan mendirikan gereja di tempat kami adalah jemaat Huria Kristen Batak Protestan, yang menurut teman saya juga beragama Kristen tapi dari suku lain (Jawa, Maluku, Irian, NTT) mereka juga kurang suka dengan kelompok ini (HKBP). Karena di dalam persatuan gereja–gereja Kristen pun, selalu membuat masalah–malsalah tatanan sesuai pola arogansi kesukuan Batak mereka.

    Saya hanya bisa berharap, surat saya ini bisa menjadi informasi pembanding dan pertimbangan yang objektif apakah apa yang saya sebutkan dengan perilaku mereka diatas itu salah atau mengada–ada. Khusus untuk teman–teman wartawan jika Anda ingin objektif silahkan survey warga Mustika Jaya Bekasi apakah yang saya sampaikan di atas benar atau tidak.

    Dan saya surat saya ini juga ditujukan Warga HKBP untuk bercermin terhadap perilaku mereka, berperilakulah seperti manusia, kalau ingin dihormati dengan sebenarnya hormatilah tatanan masyarakat sekitar. Kita ini orang timur, "Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Kalau tidak
    dimanapun anda berada kalian tidak akan pernah diterima oleh suku manapun!

    Kami takut jika mereka jadi bermukim di Mustika Jaya, tatanan kehidupan sosial kami berubah, kami takut anak–anak kami menjadi para pemabuk, keras kepala, kekerasan meningkat, kejahatan meningkat, sekali lagi kami bukan tidak mau menerima umat kristiani. Yang tidak kami terima mereka ini HKBP.

    Salam,

    Agustus 2010,
    Mustika Jaya Bbekasi

    Rahmat Siliwangi

    sumber asli http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=4062

    (catatan redaksi : kini laman Rakyat Merdeka Online diatas, sudah kosong dan tidak bisa di akses lagi)

    Sumber : http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=4062
    dicopy dari sumber : http://www.fpi.or.id/index.php?p=detail&nid=231

    Posted Maret 29, 2011 by ridwan mustofa in MasihBelajar

    Akal-akalan biar dapat gratisan Post2Blog

    post2blog

    Post2Blog salah satu offline blog editor product dari bytescout (www.bytescout.com) untuk platform Windows memang banyak fasilitas serta sangat mudah dan menyenangkan untuk digunakan untuk orang-orang yang "mau yang enak saja" seperti saya…hehehe. dan satu lagi yang menarik software ini sekarang direlease sebagai free software (tanpa source dan support) wah sungguh mengasyikan. Pertama kali saya tahu hal ini lewat bantuan om google dan baca-baca di blog orang lain…sehingga muncullah hasrat saya untuk mencobanya dengan "suudzon" paling2 hanya trial….tapi tetap pingin nyoba fiturnya seperti apa…maklum orang kere sangat bersemangat jika diberi hal-hal gratis seperti ini….sebelumnya saya biasa pake Deskblog atau scribfire (add-on firefork) dan ternyata setelah saya dapat dari download dari somewhere dan diinstall memang sangat asyik pake Post2Blog ini sampe-sampe saya nggak sadar kalo software yang saya pake ini ternyata salah download yang trial….nah inilah masalahnya …karena saya serampangan download nggak dari official websitenya jadi dapat versi yang lama yang belum freeware….

    Bisa sih digunakan tapi akan muncul nag screen untuk register atau beli lisensinya setiap kali kita publish ke blog kita dan yang menyesakkan kita dibatasi sampe 30 hari saja pemakaian trial ini… cara paling gampang untuk cek Post2Blog yang kita install trial atau bukan kita bisa lihat di About dari menu help Post2Blog ini. Yang trial dan yang free akan seperti ini :

    About box yang Trial
    post2blogtrial

    About box yang Free Edition
    post2blogfree

    Jadi dari situ akhirnya timbul nggak sreg di hati….pingin dapat hibah kok malah dapat musibah…..so harus dicari cara agar saya bisa pake yang gratisan.

    Dan ini tip dari saya agar anda tetap dapat yang gratisan terutama bagi yang sudah terlanjur install yang trial, karena walaupun di-unistall yang trial terus dipasang yang free ujung-ujungnya nanti jadi trial lagi….hehehe emang cerdik yang bikin software…..:

    1. Tips pertama ini untuk anda yang cuma mau nyoba aja….yaitu biarkan saja itu yang trial nggak usah di-uninstall dan pake sampe masa trialnya habis (30 hari)….
    2. Untuk anda yang belum pernah install sebelumnya pastikan anda download dari www.bytescout.com untuk software Post2Blog yang free edition.
    3. Jika anda sudah terlanjur pasang yang Trial dan anda suka report maka biarkan saja itu yang trial nggak usah di-uninstall dan pake terus sampe masa trialnya hampir habis, lalu lalukan uninstall dan hapus semua registry entry dengan keyword "bytecouts" dan "Post2Blog" menggunakan REGEDIT. maka nanti masa trialnya akan balik lagi 30 hari.
    4. Jika anda sudah terlanjur pasang yang Trial dan ingin bisa memakai yang free edition maka cara paling gampang adalah install saja file setup yang free tersebut di PC/Laptop yang lain dan belum pernah diinstall "Post2Blog" trial.
    5. Jika anda nggak punya PC/laptop lain lagi pinjam sama teman atau tetangga lalu minta diinstall "Post2Blog" yang free edition di laptop pinjaman itu. Jika sudah pergi ke menu Post2Blog di menubar Windows PC/laptop pinjaman itu dan eksekusi menu "Create Portable Edition" (seperti gambar di bawah ini, dengan asumsi hostnya Windows XP ) ……………………………………………………………………………

      Menu Create Portable
      portblep2b

      lalu ikuti instruksi selanjutnya sampe selesai. Jika sudah selesai copy folder target Post2blog portable tersebut ke PC anda sendiri dan jalankan tanpa unistall yang sudah terlanjur terpasang maka anda akan dapat versi yang free dari Post2Blog tersebut dengan syarat anda pake versi portabe tersebut dan jangan ditimpa versi portable dari PC anda sendiri (create portable dari PC/Laptop anda) dan juga Post2Blog yang terinstall di PC/Laptop anda jangan di uninstall…karena versi portable yang baru anda import dari PC lain tersebut masih butuh dll dan file-file lain dari hasil instalasi, maka sekarang anda sudah bisa dapat versi free dari Post2Blog.

    6. Jangan lupa berdo’a dan jangan mudah putus asa jika belum berhasil…..

    Demikian sedikit tips dari saya semoga bermanfaat……Wassalam…

    Posted Maret 23, 2011 by ridwan mustofa in MasihBelajar

    Dikaitkatakan dengan , ,

    Misteri Yajuj Ma’juj

    Misteri Letak Penjara Ya-juj dan Ma-juj

    QS. Al-Kahfi: 94

    “Mereka berkata; “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka ?”

    QS. Al-Anbiya: 96

    “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.”

    Ya-juj dan Ma-juj dalam Hadits

    Dari Zainab Binti Jahsh -isteri Nabi SAW, berkata;
    “Nabi SAW bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) Telah dibukanya penutup Ya-juj dan Ma-juj seperti ini !” beliau melingkarkan jari tangannya. (Dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90), Aku bertanya; “Ya Rasulullah SAW, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orang-orang shalih ?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.”
    (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

    Jenis dan Asal Usul Ya-juj dan Ma-juj dalam QS. Al-Kahfi : 94

    Ya-juj dan Ma-juj menurut ahli lughah ada yang menyebut isim musytaq (memiliki akar kata dari bhs. Arab) berasal dari AJAJA AN-NAR artinya jilatan api. Atau dari AL-AJJAH (bercampur/sangat panas), al-Ajju (cepat bermusuhan), Al-Ijajah (air yang memancar keras) dengan wazan MAF’UL dan YAF’UL / FA’UL. Menurut Abu Hatim, Ma-juj berasal dari MAJA yaitu kekacauan. Ma-juj berasal dari Mu-juj yaitu Malaja. Namun, menurut pendapat yang shahih, Ya-juj dan Ma-juj bukan isim musytaq tapi merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan).
    Para ulama sepakat, bahwa Ya-juj dan Ma-juj termasuk spesies manusia. Mereka berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam AS dan Hawa atau dari Adam AS saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh AS dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh AS mempunyai tiga anak, Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts Bin Nuh. Menurut Al-Maraghi, Ya-juj dan Ma-juj berasal dari satu ayah yaitu Turk, Ya-juj adalah At-Tatar (Tartar) dan Ma-juj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin.

    Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. “Batu” anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina. Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H / 656 H.

    Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang banyak keturunannya.Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter dan ada yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar.

    Pada QS. Al-Kahfi:94, Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang kasar dan biadab. Jika mereka melewati perkampungan, membabad semua yang menghalangi dan merusak atau bila perlu membunuh penduduk. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.

    Siapakah Dzulkarnain ? Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar Bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir. Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan al-Quran menyebutkan; “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu.” Menurut sejarawan muslim Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M.).
    Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.

    Ia seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azzarbaijan. Atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.

    BENARKAH TEMBOK CINA ADALAH TEMBOK Zulkarnain ?

    Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al Kahfi. Dan yang disebut Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.
    Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.
    Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dst. Sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al Kahfi ayat 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman,

    “Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?

    BEBERAPA PENELITIAN TEMBOK YA’JUJ

    Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.

    Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 m dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.

    Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di perunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam mahupun Rusia, terletak di republik Georgia.
    Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj terbuka.

    Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.

    Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.
    27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj-Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada.
    Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.

    Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).

    Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya’juj-Ma’juj itu.

    Ya’juj-Ma’juj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, membunuh, suku-suku lain. Mereka pembuat onar, dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Ya’juj dan Ma’juj kepada Iskandar Dzul Qarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.

    Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih.

    Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya’juj-Ma’juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.
    Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.

    Referensi:

    Az-Zuhaily, Tafsir Al-Munir.
    Dr. Thaha Ad-Dasuqy, ‘Aqidatuna Wa Shilatuha Bil Kaun Wal Insan Wal Hayat, Darul Huda, Kairo, 1995.
    Syekh Sya’ban ‘Abdulhadi Abu Rabah, Islamiyat, Haqaiq Fi Dzilli Tauhid Al-Ara Al-Islamiyah, Muassasah Al-’Arabiyah Al-Haditsiyah, Kairo, 1991.

    sumber copy paste :

    http://artoko.blog.friendster.com/2008/01/misteri-letak-penjara-ya-juj-dan-ma-juj/

    Posted Maret 23, 2011 by ridwan mustofa in MasihBelajar

    Sembahyang ala Yahudi

    Posted Februari 25, 2011 by ridwan mustofa in MasihBelajar

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.